السلام عليكم

Jumat, 25 April 2014

KISAH INDAH


 
TAK DIANGGAP
TAK DIANGGAP
TAK DIANGGAP
Aku ada, begitu pula dengan Kau
Aku hidup, begitu pula dengan Kau
Aku terlahir, begitu pula dengan Kau (meski aku mendahuluimu)
Aku dan Kau
Ingatkah kau akan masa lalu
Beberan kenangan pun menjadi satu
Namun
Waktu semakin berlalu
Dan memory hanyalah angin lalu
Jiwa pun tak lagi padu
Memang bersanding dekat Kau dan aku
Beratap satu, beralas satu
Namun
Merengkuhmu itu terlampau jauh untukku

Terkadang aku berpikir, apa sebab itu?? Apa masalah itu?? Apa rasamu??
Itu semua terpikir olehku,
dan akan hanya kudapatkan jawabannya dari bibirmu
Namun
Berdecap padaku sedikitpun Kau tak mau
Jangankan secercah decapan, sekedar menatapku saja tak pernah aku tahu
Hanya sebatas sindiran yang melukaiku cukup mampu
*‘lek lanang iku mesti Mas” begitu ucapmu.. tak faham apa maksudmu
Tapi ungkapan itu terekam jelas ditelingaku


Aku bingung... Aku sendu... Aku rindu
Namun, mungkin Tidak untukmu
Dan kini, yang Aku tahu
Semakin Aku mendekat, semakin Kau menjauh
Semakin Aku lembut, semakin Kau kasar
Semakin Aku berusaha, semakin Kau menghindar
Penat hatiku, penat sukmaku
CUKUP
Kali ini yang Aku tahu, Aku selalu sangat menyayangimu
Karena Aku...
KAKAKMU


 
*artinya: “kalau laki-laki itu Kakak”


Kamis, 24 April 2014

NASIB



Kilatan masa lalu tiba di pelupuk otak, gambaran tumpukan diksi dan jajaran bait layaknya sebuah de javu.
Kini pun berhadapan hampa, kosong, dan tak berisi. Toh inspirasi hanya sehelai angin lalu.
Semangatku .. ya semangatku.... lenyap hangus dengan antusiasku.
Kepingan sisa harapan-harapan lalu tetap melekat pekat, terjerat dan tak mampu bergerak, karena terdesak kehidupan kini.
mungkin sekarang... ya sekarang... buih harapan itu memberontak dan memaksa otak melepaskan tubuhnya yang telah disekap berapa lamanya.
Langkah cepat ia dapatkan, siaga awal dengan merangsang syaraf-syaraf lengan, yang kemudian menyetarakannya dengan tarian jari-jari dan ilusi, namun tersendat-sendat ia dapatkan.
Terputus-putus aliran paradigmanya, layaknya konektor dengan status 0 kbps. Namun tak henti dalam kebuntuan, megejar celah kosong dari neutron-neutron yang lengah.
Siaga kedua, terus mengoyak dan terus menjajarkan huruf dengan tanpa alur yang jelas. Stop.. kini tersandung ruas jalan yang dalam dan mencegahnya untuk melajukan angkutan kata-nya-. Tetap teguh jiwa, ia mengangkat lepas tumpukan kata yang tercecer jatuh, menyeret pun mendorong angkutan kata itu, hingga terbebaslah ia dari ranjau penghasut.
Kini aku membawa tumpukan huruf, kata, dan kalimat yang mungkin saja berantakan, sebab beberapa kendala yang kutemui, tapi tak rupa sebuah alasan karena ada satu yang tetap menuntunku dan menjadi penunjuk jalanku.. Itulah SEMANGATKU. 

MAHALNYA DIRIMU



                Disuatu pagi bertemulah seorang syaikh dengan seorang wanita kristen, dan timbullah percakapan.
“aku mempunyai pertanyaan untukmu, wahai bapak tua muslim!” kata wanita itu. “Apa, pasti aku jawab” jawab syaikh dengan tegas.
“Mengapa wanita muslim tidak boleh berjabat tangan dengan laki-laki yang bukan saudaranya?, jangankan berjabat tangan disentuh saja dilarang ”
“Kamu tahu Ratu Elizabeth??” timpal sang Syaikh, “oh.. sangat tahu, Dia adalah ratu kami”
“Apakah kamu pernah berjabat tangan dengannya??” tambah syaikh itu, “Tidaklah.. dia wanita terhormat nan mulia hanya orang-orang tertentulah yang bisa bersalaman dengannya”tangkas wanita itu dengan lantang. “Begitu juga dengan wanita muslim, dia wanita mulia dan terhormat yang tidak bisa disentuh sembarang orang” penjelasan syaikh tersebut.
Wanita itu pun kembali bertanya “Lalu, Mengapa wanita muslim harus berjilbab dan selalu berpakaian tertutup ??” , tak langsung menjawab Syaikh tersebut kemudian mengambil dua buah permen, yang satusebuah permen lolipop dengan keadaan terbuka dan satunya lagipermen biasa dengan keadaan terbungkus, lalu dijatuhkannya kedua permen itu ke tanah.
 “Ambillah salah satu untuk kau makan!”perintah Syaikh pada wanita kristen itu, tanpa berpikir panjang wanita itu pun mengambil sebuah permen yang masih terbungkus rapi. “Begitu pula wanita muslim Ia selalu menutup dirinya dan setiap keindahannya agar mendapat penghormatan kemuliaannya dari harga dirinya” Jelas sang Syaikh


Dikisahkan dalam sebuah majelis pengajian Tafsir di Pesantren.