السلام عليكم

Kamis, 24 April 2014

NASIB



Kilatan masa lalu tiba di pelupuk otak, gambaran tumpukan diksi dan jajaran bait layaknya sebuah de javu.
Kini pun berhadapan hampa, kosong, dan tak berisi. Toh inspirasi hanya sehelai angin lalu.
Semangatku .. ya semangatku.... lenyap hangus dengan antusiasku.
Kepingan sisa harapan-harapan lalu tetap melekat pekat, terjerat dan tak mampu bergerak, karena terdesak kehidupan kini.
mungkin sekarang... ya sekarang... buih harapan itu memberontak dan memaksa otak melepaskan tubuhnya yang telah disekap berapa lamanya.
Langkah cepat ia dapatkan, siaga awal dengan merangsang syaraf-syaraf lengan, yang kemudian menyetarakannya dengan tarian jari-jari dan ilusi, namun tersendat-sendat ia dapatkan.
Terputus-putus aliran paradigmanya, layaknya konektor dengan status 0 kbps. Namun tak henti dalam kebuntuan, megejar celah kosong dari neutron-neutron yang lengah.
Siaga kedua, terus mengoyak dan terus menjajarkan huruf dengan tanpa alur yang jelas. Stop.. kini tersandung ruas jalan yang dalam dan mencegahnya untuk melajukan angkutan kata-nya-. Tetap teguh jiwa, ia mengangkat lepas tumpukan kata yang tercecer jatuh, menyeret pun mendorong angkutan kata itu, hingga terbebaslah ia dari ranjau penghasut.
Kini aku membawa tumpukan huruf, kata, dan kalimat yang mungkin saja berantakan, sebab beberapa kendala yang kutemui, tapi tak rupa sebuah alasan karena ada satu yang tetap menuntunku dan menjadi penunjuk jalanku.. Itulah SEMANGATKU. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar