Kilatan masa lalu tiba di pelupuk otak, gambaran tumpukan
diksi dan jajaran bait layaknya sebuah de javu.
Kini pun berhadapan hampa, kosong, dan tak berisi. Toh
inspirasi hanya sehelai angin lalu.
Semangatku .. ya semangatku.... lenyap hangus dengan
antusiasku.
Kepingan sisa harapan-harapan lalu tetap melekat pekat,
terjerat dan tak mampu bergerak, karena terdesak kehidupan kini.
mungkin sekarang... ya sekarang... buih harapan itu
memberontak dan memaksa otak melepaskan tubuhnya yang telah disekap berapa
lamanya.
Langkah cepat ia dapatkan, siaga awal dengan merangsang
syaraf-syaraf lengan, yang kemudian menyetarakannya dengan tarian jari-jari dan
ilusi, namun tersendat-sendat ia dapatkan.
Terputus-putus aliran paradigmanya, layaknya konektor dengan
status 0 kbps. Namun tak henti dalam kebuntuan, megejar celah kosong dari
neutron-neutron yang lengah.
Siaga kedua, terus mengoyak dan terus menjajarkan huruf
dengan tanpa alur yang jelas. Stop.. kini tersandung ruas jalan yang dalam dan
mencegahnya untuk melajukan angkutan kata-nya-. Tetap teguh jiwa, ia mengangkat
lepas tumpukan kata yang tercecer jatuh, menyeret pun mendorong angkutan kata
itu, hingga terbebaslah ia dari ranjau penghasut.
Kini aku membawa tumpukan huruf, kata, dan kalimat yang
mungkin saja berantakan, sebab beberapa kendala yang kutemui, tapi tak rupa
sebuah alasan karena ada satu yang tetap menuntunku dan menjadi penunjuk
jalanku.. Itulah SEMANGATKU.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar