السلام عليكم

Jumat, 12 Mei 2017

PERBANDINGAN PONDOK PESANTREN MODERN & SALAFIYAH

PERBANDINGAN PONDOK 
PESANTREN MODERN & SALAFIYAH


ABSTRAK

Kurikulum merupakan salah satu instrumen penting dalam penyelenggaran pendidikan. Setiap lembaga pendidikan baik yang bersifat konservatif atau revolusioner, baik yang dikelola pemerintah, swasta, atau masyarakat membutuhkan kurikulum untuk mencapai tujuan pendidikan serta untuk merumuskan nilai apa yang akan ditanamkan kepada peserta didik mereka.  Secara pedagogis, kurikulum adalah rancangan pendidikan yang memberi kesempatan untuk peserta didik mengembangkan potensi dirinya dalam suatu suasana belajar yang menyenangkan dan sesuai dengan kemampuan dirinya untuk memiliki kualitas yang diinginkan masyarakat dan bangsanya. Secara yuridis, kurikulum adalah suatu kebijakan publik yang didasarkan kepada dasar filosofis bangsa dan keputusan yuridis di bidang pendidikan.1 Dalam pengembangan materi dan model materi yang ingin disampaikan oleh suatu lembaga pendidikan, kurikulum menempati posisi yang sangat penting. Dalam hal ini misalnya kurikulum dalam pendidikan pesantren yang memiliki tujuan tertentu dan dipengaruhi oleh muatan ideologis keagamaan. Tidak hanya aspek spiritual saja yang ditekankan, tetapi juga aspek sosial-material.  Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang pada awalnya menggunakan model pendidikan sederhana, yakni pengajaran individual yang dilaksanakan di masjid, surau, atau rumah-rumah ulama’ yang memberi pengajian. Di tempat tersebut, pengajian dilakukan dengan sistem kelompok-kelopmpok kecil yang dinamakan halaqah. Lambat laun, semakin banyak umat Islam yang tertarik untuk menuntut ilmu di masjid dan tempat lokasi lainnya tersebut, sehingga masjid menjadi penuh dan tidak mampu menampung murid-murid yang belajar. Hal ini mendorong lahirnya bentuk lembaga pendidikan baru yang disebut khan. Ini adalah semacam pemondokan atau penginapan para murid yang mengikuti kegiatan pengajaran.
Saat ini, pesantren memiliki peran penting dalam dunia pendidikan di Indonesia. Dilihat dari segi ilmu yang diajarkan, pesantren terbagi menjadi tiga macam, yaitu: pesantren tradisional, pesantren modern, dan pesantren komprehensif. Masing-masing memiliki kurikulum pembelajaran yang berbeda-beda. Pada makalah ini, penyusun akan mencoba membandingkan dua macam pesantren yang memiliki sistem dan kurikulum berbeda, yakni antara pondok pesantren Nurul Haromain, Pujon yang menganut model kurikulum modern dan pondok pesantren salafiyah Shirotul Fuqoha’, Gondanglegi yang menganut model kurikulum tradisional. Penyusun memfokuskan pada kurikulum Madin (madrasah diniyah) dan pembelajaran bahasa Aran didalamnya. Bahasa Arab adalah salah satu bahasa yang diakui oleh dunia internasional sebagai salah satu alat komunikasi dunia. Penyebaran bahasa Arab di seluruh dunia hingga kini mempunyai signifikansi tersendiri bagi perkembangan ilmu kebahasaan. Kuantitas umat Islam yang tersebar di seluruh dunia juga turut mempengaruhi pola penyebaran bahasa Arab di masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui perbedaan pelaksanaan kurikulum bahasa Arab yang digunakan di pondok pesantren salaf dengan pondok pesantren modern, serta untuk mengetahui segala aspek pengembangan kurikulum anatara pondok pesantren ini, baik dari awal mula berdirinya pondok, rencana pembelajaran, visi dan misi, sarana prasarana, serta model pembelajaran dan evaluasi pembelajarannya. 

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pesantren Modern dan Pesantren Salafiyah
Terdapat dua contoh pondok pesantren yang akan dibahas pada makalah ini, masing-masing pondok memiliki sistem yang berbeda, dalam hal ini adalah Pondok Pesantren Nurul Haromain Pujon dengan sistem modern dan yang kedua Pondok Pesantren Salafiyah Shirothul  Fuqoha’ Gondanglegi yang sudah terlihat jelas bersistem salaf. Sebelum mengetahui sisi perbedaan kedua pesantren itu, perlu kiranya mengetahui beberapa ulasan tentang 2 pesantren tersebut
1.      Pondok Pesantren Nurul Haromain Pujon. Pesantren ini adalah bentuk pesantren modern. Untuk memudahkan mengenalinya, disini ada beberapa poin bahasan, antara lain:
a.       Sejarah
Pondok Pesantren Nurul Haromain berdiri di Pujon – Malang, lenih tepatnya di jl. Abdul Manan Wijaya Desa Ngroto Berdasarkan peresmiannya pondok pesantren ini pada tanggal 13 Robiul Akhir 1408H atau 04 Desember 1987 M namun pembukaannya mulai tahun 1991. Pondok pesantren Nurul Haromain diasuh sekaligus pendiri oleh KH.Muhammad Ihya’ Ulumuddin beberapa riwayat pendidikan beliau adalah menempuh pendidikannya di Sekolah Rakyat (SR) pada saat itu, kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Langitan dan YAPI Bondowoso, tidak berhenti disitu beliau menyelesaikan pendidikan di At Tarbiyah Assayid Muhammad Alawy Al Maliki. Bukan hanya pendidikan beliau juga mempunyai pengalaman banyak dalam bidang berdakwah –menjadi Da’i– baik dilingkungan organisasi masyarakat, syiar di kampus-kampus di Surabaya dan kota lainnya, juga di pesantrennya sendiri, karena sebagai pengasuh.

b.      Kurikulum
Sistem pendidikan PP Nurul Haromain ini adalah pesantren modern yang dengan beberapa karakteristik sebagai berikut:
1)      Visi dan Misi
Visi dan misi PP. Nurul Haromain identik dengan visi dan misi pondok pesantren pada umumnya. Selain untuk menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim (Mastuhu, 1994:55), tujuan pendidikan PP. Nurul Haromain juga selaras dengan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan oleh Forum Pesantren (Nafi’, 2007:50) yaitu lebih menekankan pada akhlak atau kepribadian, penguatan kompetensi santri yaitu kompetensi bidang dakwah, dan penyebaran ilmu.
Landasan pondok pesantren ini dengan menganut paham / ideologi Ahlusunnah wal Jama’ah.
2)      Relasi Sosial
Dengan memiliki visi misi tersebut, menjadikan santri dari pesantren ini diharuskan berjiwa sosial sebagai bekal seorang pendakwah itu, tidak hanya itu dari sebutan kyai untuk santri-santrinya, KH. M. Ihya’ membiasakan santri menyebutnya dengan kata “Abi” alasan beliau agar muncul kedekatan antara pengasuh dengan anak asuhannya, karena pengasuh menerapkan prinsip shuhbah (berkawan, terbuka, akrab, saling mendukung) Gazalba (1995:63)hubungan kiai dengan para santrinya tidak terbatas hanya hubungan guru dan murid, akan tetapi hubungan timbal balik di mana santri menganggap kiainya  sebagai bapaknya sendiri dan sebaliknya kiai menganggap santrinya sebagai titipan Tuhan yang senantiasa harus dilindungi.
3)      Tenaga pendidik dan Civitas Pesantren
PP. Nurul Haromain tidak menggunakan ustad / ustadah –santri yang sudah selesai tingkat diniyahnya- untuk mengajarkan ilmu kepada santrinya, melainkan kyai sendiri yang mengajar mereka tanpa perantara lain.
Untuk mendukung berjalannya administrasi di pesantren ini dilakukan bersama-sama, kyai memberikan amanah kepada santri-santrinya tanpa membedakan derajatnya juga tidak menyebut sebagai jabatan.
4)      Metode dan Model Pengajaran
Calon santri harus melalui tes masuk yang berupa tes membaca Al-Qur’an, membaca kitab gundul dan tes psikologi. Tes tersebut untuk mengetahui keilmuan santri apakah sudah siap untuk dikembangkan dan melaksanakan tugas-tugas dakwah di masyarakat.
kurikulum di PP. Nurul Haromain tidak menggunakan kurikulum dalam pengertian seperti kurikulum pada lembaga pendidikan formal. diartikan sebagai pelajaran atau daftar mata pelajaran yang akan diterima anak didik (santri) dalam waktu tertentu untuk memperoleh ijazah atau kemampuan tertentu (Shonhadji dalam Halim, A. 2005:16).   Kurikulum mata pelajaran di PP. Nurul Haromain mengkaji ilmu-ilmu terutama berupa Hadits dan tafsir Al-Qur’an, fikih-Hadits, akidah/ideologi dan dakwah. Di PP. Nurul Haromain menggunakan metode pembelajaran bandongan (berkumpul di dalam ruang seperti kelas untuk mengaji), halaqoh Qur‟an, mudzakarah (diskusi), sorogan, majelis ta‟lim, hafalan, muhawarah, dan maarif ‘am (forum pengetahuan umum). Selain itu juga terdapat kegiatan-kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di luar pondok pesantren yaitu tugas dakwah, halqoh (evaluasi hasil diskusi), rihlah, dan ABS.
5)      Evaluasi pembelajaran
Pendidikan di PP. Nurul Haromain ditempuh dalam waktu 3 tahun dengan menggunakan kurikulum kitab dan praktek dakwah. Evaluasi pendidikan seperti ini sesuai dengan kurikulum pada pondok pesantren salafiyah yang berupa tidak dalam bentuk jabaran silabus, tetapi berupa funun (macam-macam) kitab yang diajarkan kepada para santri dalam waktu tertentu untuk memperoleh ijazah atau kemampuan tertentu (Depag, 2003:31 dan Shonhadji, 2005:16). Evaluasi kelulusan santri di PP. Nurul Haromain tidak berorientasi pada otoritas restu dari kiai untuk mempelajari kitab yang tinggi tingkatannya dan boleh mengajarkan kepada orang lain (Mastuhu, 1994:145 dan Mansur, 2003:48) tetapi lebih diutamakan “Ilmuhu wa naf‟uhu linnas”. 
6)      Sarana dan Prasarana
Status kepemilikan tanah dan bangunan PP Nurul Haromain ini adalah milik pribadi, yakni KH. Muhammad Ihya Ulumuddin dan sumber dana pondok pesantren dikelola secara swadaya (Ahmad, R., dkk, 2005:25). Begitu juga di PP. Nurul Haromain, memiliki beberapa bidang usaha pesantren seperti Swalayan Al-Ghina, Enha farm (perkebunan/pertanian, biogas), Annuha publishing, dan air minum Hexagonal Zulal serta bantuan dari LAZIS Al-Haromain (Lembaga Amil, Zakat, Infaq dan Shodaqah).
Sarana pendidikan di PP. Nurul Haromain tergolong sederhana. Tempat belajar dan mengajar berlangsung di musholla, sakan/tempat istirahat santri dan perpustakaan. Adapun alat-alat pendidikan yang digunakan sudah tergolong modern seperti laptop/komputer, LCD, peralatan shoting (kamera), internet, stasiun radio, dan TV internet/on-line.

2.      Pondok Pesantren Shirothul Fuqoha’. Setelah kita mengetahui tupa pesantren modern, maka berikut adalah contoh pesantren salafiyah, yang juga tertulis beberapa rincian sebagai berikut:
a.       Sejarah
Pondok Pesantren Salafiyah Shirothul Fuqoha’ bukanlah sebuah pondok yang dibangun dengan sengaja, melainkan sebuah tanah waqaf yang dibangun masjid dan digunakan sebagai pusat kajian agama oleh warga daerah Gondanglegi. Seringnya pengajian diadakan membuat warga berani mengundang ustad bahkan Kyai dari luar kota, salah satunya KH. Damiri dari Jombang dan akhirnya beliaulah yang membangun dan mengembangkan pesantren ini.
Tepat pada tahun 1977, KH. Damiri memberi nama Pesantren dengan  Pondok Pesantren Salafiyah Shirothul Fuqoha’ dengan adanya santri sekitar 30-an putra dan putri. Ditahun 1981 ditambahlah bangunan yang ada untuk memfasilitasi santri pada saat itu. Namun, pada tahun 1984 tepatnya pada tanggal 8 Januari 1984 sang pendiri pondok romo K.H. Damiri telah wafat dengan meninggalkan santri sebanyak 340 orang, dan perjuangan beliau dalam menyi’arkan agama dilanjutkan oleh putra angkat beliau yang juga alim dan istiqomah yaitu K.H.Muhammad Dahlan Ghoni.
Sejak saat itulah pesantren yang berlokasi di jl. Raya Sepanjang Gondanglegi ini diasuh oleh K.H.Muhammad Dahlan Ghoni hingga saat ini pesantren semakin besar dan berkembang dengan melakukan ekspansi tanah, bukan hanya beliau beberapa sekolah yang dibangun telah diamanahkan kepada menantu dan anak-anak beliau.

b.      Kurikulum
Melanjutkan batu patokan Romo Kyai Damiri, Kyai Dahlan mempertahankan sistem salaf untuk pesantren ini dengan beberapa kriteria:
1)      Visi dan Misi
Sesuai dengan namanya, pesantren ini bertujuan menjadikan santri ahli fiqih yang secara spesifik melakukan kajian ilmu-ilmu syari’at dalam upaya tafaqquh fiddin dan memahami permasalahan yang ada dimasyarakat. Sehingga memiliki kemampuan untuk menjawab dan memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Maunah, 2009:33
2)      Relasi Sosial
Latar belakang pesantren yang hadir karena warga masyarakat menjadikan pesantren ini tetap menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar pesantren, dengan mengadakan pengajian rutin tiap jumat pagi, dan konsumsi pun disiapkan bersama-sama oleh santri dan beberapa warga sekitar. Menjadikan alumni pesantren ini mengerti akan sikap dan tanggungjawab dalam berinteraksi dengan masyarakat luas.
3)      Tenaga Pendidik dan Civitas Pesantren
Seperti umumnya pesantren dalam PP. Shirothul Fuqoha’ selain Kyai dan putra-putranya, juga menuntut santri-santri senior untuk mengajarkan ilmmunya kepada santri-santri junior atau disebut ustad dan ustadah. Dalam adminnistrasi juga diberikan amanah kepada para santri senior yang dinaungi oleh gus dan ning (menantu dan putra pengasuh).
4)      Metode dan Model Pengajaran
Pesantren salaf selalu memiliki ciri khas dalam pengajarannya yakni menekankan dengan mengkaji kitab kuning. Dari awal pendirian pesantren ini metode waton (pengajian umum) sudah diberlakukan bahkan untuk masyarakat luar, juga menggunakan metode tradisional lain berupa sorogan (membaca suatu materi dan disimak oleh guru secara perseorangan), dan mudzakaroh (diskusi masalah-masalah diniyah), yang ditekankan lagi ada halaqoh qur’an setiap usai sholat shubuh dan maghrib.
Madrasah diniyahnya dengan metode klasikal dan materi lebih beracuan pada kitab, dibedakan tingkatannya antara madrasah diniyah di santri putra dengan madrasah santri putri. Untuk santri putra ada 3 tingkatan yaitu tingkat ibtida’ selama 2 tahun, tingkat tsanawiyah selama 2 tahun, dan tingkat aliyah selama 2 tahun. Sedangkan madrasah diniyah untuk santri putri hanya 2 tingkatan yaitu tingkat ibtida’ atau ula selama 3 tahun dan tingkat wustho 3 tahun. Perbedaan itu karena sudut pandang pengasuh mengharuskan anak laki-laki harus mempunyai derajat keilmuan yang lebih tinggi dari anak perempuan.
5)      Evaluasi pembelajaran
Dalam tiap tingkatan / kelas, akan ada sebuah ujian / imtihan tiap triwulan -3 bulan sekali- untuk masing-masing mata pelajaran dengan ujian tulis dan ujian hafalan / muhafadhoh. jika akan kenaikan kelas, di hari terakhir ujian harus mengumpulkan buku catatan –tiap mata pelajaran pada tingkat tertentu- yang sudah lengkap dan itu berpengaruh pada nilai rapor.
6)      Sarana dan Prasarana
Adanya masjid besar yang menjadi titik tumpu berdirinya pesantren ini, hingga saat ini sudah mengalami beberapa pemugaran masjid, begitu pula dengan pesantren ditambah musholla untuk santri putri. Meningkatnya santri yang terus bertambah, menjadikan pesantren ini punya banyak komplek kamar baik putra maupun putri, ada pula aula / gedung serbaguna yang menjadi pusat kegiatan pesantren, kamar mandi dan dapur santri, kantor pesantren putra dan putrikamar mandi dan dapur santri, kantor pesantren putra dan putri, koperasi pondok, ruang komputer, perpustakaan. Dan sekarang sudah dibuka sekolah formal MA Shirothul Fuqoha’ dengan 3 kelas.

Bukan sebuah maksud menunjukkan baik buruk antara kedua pesantren diatas, melainkan perlu mengetahui apa saja perbedaan yang signifikan dari kedua contoh paparan diatas, dan perbedaan itu dibahas dalam pemaparan selanjutnya.
B.    Perbandingan Pesantren Salaf dan Modern
Setelah melihat dua contoh data pesantren modern dan salaf maka perlu adanya perbandingan untuk melihat secara rinci bentuk dan model kedua jenis pesantren itu, yang dalam hal ini akan disajikan melalui tabel sebagai berikut:
KARAKTERISTIK
PESANTREN MODERN
PESANTREN SALAF
TUJUAN
-          pesantren modern memiliki tujuan yang lebih fokus dan terarah
-          lebih membawa masa depan alumninya jelas
-          pesantren salaf mempunyai tujuan yang berbatas
-          menjadikan alumninya lebih mampu bersikap dan berinteraksi dengan berbagai kalangan masyarakat
MATERI
-          tidak hanya beracuan pada kitab klasik
-          menghadirkan ilmu pengetahuan umum
-          lebih piawai dalam mengintegrasikan dengan perkembangan zaman
-          beracuan dengan kitab klasik (kitab kuning)
-          mengutamakan ilmu alat dan ilmu fiqih
-          lebih membahas permasalahan agama yang terjadi di kalangan masyarakat kontemporer (diskusi)
METODE
-          lebih kreatif dalam membungkus metode tradisional
-          mampu menghadirkan media pembelajaran baru
-          mempertahankan metode tradisional
-          tidak menghiraukan media yang lebih menunjang pembelajaran
EVALUASI
-          placement tes
-          tes tulis dan praktek di akhir masa pelajaran
-          ada uji lapangan untuk melihat kemampuan di dunia luar
-          tes tulis di akhir masa pelajaran
-          hafalan
-          ujian sebatas teori
SARANA/PRASARANA
-          fasilitas lebih mengikuti kemajuan teknologi
-          fasilitas memadai yang terhindar dari pengaruh negatif perkembangan teknologi

Dari tabel diatas dapat terlihat jelas bagaimana sistem dan kurikulum yang ada di pesantren modern dan kurikulum yang ada di pesantren salaf, semua itu bertujuan agar kita bisa menemukan kurikulum yang terbaik diantara dua contoh diatas.

BAB III
 PENUTUP 

A. Kesimpulan  
Kurikulum pendidikan di pesantren saat ini tak sekedar fokus pada kita kitab klasik, tetapi juga memasukkan semakin banyak mata pelajaran dan keterampilan umum di Pesantren saat ini dikotomi ilmu mulai tak populer. Beberapa pesantren bahkan mendirikan lembaga pendidikan umum yg berada dibawah DIKNAS Misal Undar Jombang, Pondok pesantren Iftitahul Muallimin Ciwaringin Jawa barat dll. Dilihat dari segi ilmu yang diajarkan, pesantren terbagi menjadi tiga macam, yaitu: pesantren tradisional, pesantren modern, dan pesantren komprehensif. Masingmasing memiliki kurikulum pembelajaran yang berbeda-beda.  

B. Saran 
Tidak dapat menentukan kurikulum mana yang lebih baik, melainkan tiap pesantren mempunyai ciri khas masing-masing dan tak ada kerugian ketika menuntut ilmu didalamnya. Akan lebih baik jika ada pesantren yang menyatukan dua sistem yang berbeda itu, hingga tercipta sebuah pesantren yang dapat menerima setiap keadaan dengan tetap mempertahankan budaya wali songo tapi tidak tertinggal oleh zaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar