PERBANDINGAN PONDOK
PESANTREN MODERN & SALAFIYAH
ABSTRAK
Kurikulum merupakan salah satu instrumen
penting dalam penyelenggaran pendidikan. Setiap lembaga pendidikan baik yang
bersifat konservatif atau revolusioner, baik yang dikelola pemerintah, swasta,
atau masyarakat membutuhkan kurikulum untuk mencapai tujuan pendidikan serta
untuk merumuskan nilai apa yang akan ditanamkan kepada peserta didik
mereka. Secara pedagogis, kurikulum
adalah rancangan pendidikan yang memberi kesempatan untuk peserta didik
mengembangkan potensi dirinya dalam suatu suasana belajar yang menyenangkan dan
sesuai dengan kemampuan dirinya untuk memiliki kualitas yang diinginkan
masyarakat dan bangsanya. Secara yuridis, kurikulum adalah suatu kebijakan
publik yang didasarkan kepada dasar filosofis bangsa dan keputusan yuridis di
bidang pendidikan.1 Dalam pengembangan materi dan model materi yang ingin
disampaikan oleh suatu lembaga pendidikan, kurikulum menempati posisi yang
sangat penting. Dalam hal ini misalnya kurikulum dalam pendidikan pesantren
yang memiliki tujuan tertentu dan dipengaruhi oleh muatan ideologis keagamaan.
Tidak hanya aspek spiritual saja yang ditekankan, tetapi juga aspek
sosial-material. Pesantren merupakan
salah satu lembaga pendidikan yang pada awalnya menggunakan model pendidikan
sederhana, yakni pengajaran individual yang dilaksanakan di masjid, surau, atau
rumah-rumah ulama’ yang memberi pengajian. Di tempat tersebut, pengajian
dilakukan dengan sistem kelompok-kelopmpok kecil yang dinamakan halaqah. Lambat
laun, semakin banyak umat Islam yang tertarik untuk menuntut ilmu di masjid dan
tempat lokasi lainnya tersebut, sehingga masjid menjadi penuh dan tidak mampu
menampung murid-murid yang belajar. Hal ini mendorong lahirnya bentuk lembaga
pendidikan baru yang disebut khan. Ini adalah semacam pemondokan atau penginapan
para murid yang mengikuti kegiatan pengajaran.
Saat ini, pesantren memiliki peran penting
dalam dunia pendidikan di Indonesia. Dilihat dari segi ilmu yang diajarkan,
pesantren terbagi menjadi tiga macam, yaitu: pesantren tradisional, pesantren
modern, dan pesantren komprehensif. Masing-masing memiliki kurikulum
pembelajaran yang berbeda-beda. Pada makalah ini, penyusun akan mencoba
membandingkan dua macam pesantren yang memiliki sistem dan kurikulum berbeda,
yakni antara pondok pesantren Nurul Haromain, Pujon yang menganut model
kurikulum modern dan pondok pesantren salafiyah Shirotul Fuqoha’, Gondanglegi
yang menganut model kurikulum tradisional. Penyusun memfokuskan pada kurikulum
Madin (madrasah diniyah) dan pembelajaran bahasa Aran didalamnya. Bahasa Arab
adalah salah satu bahasa yang diakui oleh dunia internasional sebagai salah
satu alat komunikasi dunia. Penyebaran bahasa Arab di seluruh dunia hingga kini
mempunyai signifikansi tersendiri bagi perkembangan ilmu kebahasaan. Kuantitas
umat Islam yang tersebar di seluruh dunia juga turut mempengaruhi pola
penyebaran bahasa Arab di masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, penyusunan
makalah ini adalah untuk mengetahui perbedaan pelaksanaan kurikulum bahasa Arab
yang digunakan di pondok pesantren salaf dengan pondok pesantren modern, serta
untuk mengetahui segala aspek pengembangan kurikulum anatara pondok pesantren
ini, baik dari awal mula berdirinya pondok, rencana pembelajaran, visi dan
misi, sarana prasarana, serta model pembelajaran dan evaluasi pembelajarannya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pesantren Modern dan Pesantren Salafiyah
Terdapat dua contoh pondok pesantren yang akan dibahas
pada makalah ini, masing-masing pondok memiliki sistem yang berbeda, dalam hal
ini adalah Pondok Pesantren Nurul Haromain Pujon dengan sistem modern dan yang
kedua Pondok Pesantren Salafiyah Shirothul
Fuqoha’ Gondanglegi yang sudah terlihat jelas bersistem salaf. Sebelum
mengetahui sisi perbedaan kedua pesantren itu, perlu kiranya mengetahui
beberapa ulasan tentang 2 pesantren tersebut
1. Pondok Pesantren Nurul Haromain Pujon. Pesantren ini adalah bentuk
pesantren modern. Untuk memudahkan mengenalinya, disini ada beberapa poin
bahasan, antara lain:
a. Sejarah
Pondok Pesantren Nurul Haromain berdiri di
Pujon – Malang, lenih tepatnya di jl. Abdul Manan Wijaya Desa Ngroto Berdasarkan peresmiannya pondok pesantren ini pada
tanggal 13 Robiul Akhir 1408H atau 04 Desember 1987 M namun pembukaannya mulai
tahun 1991. Pondok pesantren Nurul Haromain diasuh sekaligus pendiri oleh KH.Muhammad
Ihya’ Ulumuddin beberapa riwayat pendidikan beliau adalah menempuh
pendidikannya di Sekolah Rakyat (SR) pada saat itu, kemudian melanjutkan ke
Pondok Pesantren Langitan dan YAPI Bondowoso, tidak berhenti disitu beliau
menyelesaikan pendidikan di At Tarbiyah Assayid Muhammad Alawy Al Maliki. Bukan
hanya pendidikan beliau juga mempunyai pengalaman banyak dalam bidang berdakwah
–menjadi Da’i– baik dilingkungan organisasi masyarakat, syiar di kampus-kampus
di Surabaya dan kota lainnya, juga di pesantrennya sendiri, karena sebagai
pengasuh.
b. Kurikulum
Sistem pendidikan PP Nurul Haromain ini adalah pesantren
modern yang dengan beberapa karakteristik sebagai berikut:
1) Visi dan Misi
Visi dan misi PP. Nurul Haromain identik dengan visi dan
misi pondok pesantren pada umumnya. Selain untuk menciptakan dan mengembangkan
kepribadian muslim (Mastuhu, 1994:55), tujuan pendidikan PP. Nurul Haromain
juga selaras dengan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan oleh Forum
Pesantren (Nafi’, 2007:50) yaitu lebih menekankan pada akhlak atau kepribadian,
penguatan kompetensi santri yaitu kompetensi bidang dakwah, dan penyebaran
ilmu.
Landasan pondok pesantren ini dengan menganut paham /
ideologi Ahlusunnah wal Jama’ah.
2) Relasi Sosial
Dengan memiliki visi misi tersebut, menjadikan santri
dari pesantren ini diharuskan berjiwa sosial sebagai bekal seorang pendakwah
itu, tidak hanya itu dari sebutan kyai untuk santri-santrinya, KH. M. Ihya’
membiasakan santri menyebutnya dengan kata “Abi” alasan beliau agar muncul
kedekatan antara pengasuh dengan anak asuhannya, karena pengasuh menerapkan
prinsip shuhbah (berkawan, terbuka, akrab, saling mendukung) Gazalba
(1995:63)hubungan kiai dengan para santrinya tidak terbatas hanya hubungan guru
dan murid, akan tetapi hubungan timbal balik di mana santri menganggap
kiainya sebagai bapaknya sendiri dan
sebaliknya kiai menganggap santrinya sebagai titipan Tuhan yang senantiasa
harus dilindungi.
3) Tenaga pendidik dan Civitas Pesantren
PP. Nurul Haromain tidak menggunakan ustad / ustadah
–santri yang sudah selesai tingkat diniyahnya- untuk mengajarkan ilmu kepada
santrinya, melainkan kyai sendiri yang mengajar mereka tanpa perantara lain.
Untuk mendukung berjalannya administrasi di pesantren ini
dilakukan bersama-sama, kyai memberikan amanah kepada santri-santrinya tanpa
membedakan derajatnya juga tidak menyebut sebagai jabatan.
4) Metode dan Model Pengajaran
Calon santri harus melalui tes masuk yang berupa tes
membaca Al-Qur’an, membaca kitab gundul dan tes psikologi. Tes tersebut
untuk mengetahui keilmuan santri apakah sudah siap untuk dikembangkan dan
melaksanakan tugas-tugas dakwah di masyarakat.
kurikulum di PP. Nurul Haromain tidak menggunakan
kurikulum dalam pengertian seperti kurikulum pada lembaga pendidikan formal.
diartikan sebagai pelajaran atau daftar mata pelajaran yang akan diterima anak
didik (santri) dalam waktu tertentu untuk memperoleh ijazah atau kemampuan
tertentu (Shonhadji dalam Halim, A. 2005:16).
Kurikulum mata pelajaran di PP. Nurul Haromain mengkaji ilmu-ilmu
terutama berupa Hadits dan tafsir Al-Qur’an, fikih-Hadits, akidah/ideologi dan
dakwah. Di PP. Nurul Haromain menggunakan metode
pembelajaran bandongan (berkumpul di dalam ruang seperti kelas untuk mengaji),
halaqoh Qur‟an, mudzakarah (diskusi), sorogan, majelis ta‟lim, hafalan,
muhawarah, dan maarif ‘am (forum pengetahuan umum). Selain itu juga terdapat
kegiatan-kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di luar pondok pesantren yaitu
tugas dakwah, halqoh (evaluasi hasil diskusi), rihlah, dan ABS.
5) Evaluasi pembelajaran
Pendidikan di PP. Nurul Haromain ditempuh dalam waktu 3
tahun dengan menggunakan kurikulum kitab dan praktek dakwah. Evaluasi
pendidikan seperti ini sesuai dengan kurikulum pada pondok pesantren salafiyah
yang berupa tidak dalam bentuk jabaran silabus, tetapi berupa funun
(macam-macam) kitab yang diajarkan kepada para santri dalam waktu tertentu
untuk memperoleh ijazah atau kemampuan tertentu (Depag, 2003:31 dan Shonhadji,
2005:16). Evaluasi kelulusan santri di PP. Nurul Haromain tidak berorientasi
pada otoritas restu dari kiai untuk mempelajari kitab yang tinggi tingkatannya
dan boleh mengajarkan kepada orang lain (Mastuhu, 1994:145 dan Mansur, 2003:48)
tetapi lebih diutamakan “Ilmuhu wa naf‟uhu linnas”.
6) Sarana dan Prasarana
Status kepemilikan tanah dan bangunan PP Nurul Haromain
ini adalah milik pribadi, yakni KH. Muhammad Ihya Ulumuddin dan sumber dana
pondok pesantren dikelola secara swadaya (Ahmad, R., dkk, 2005:25). Begitu juga
di PP. Nurul Haromain, memiliki beberapa bidang usaha pesantren seperti
Swalayan Al-Ghina, Enha farm (perkebunan/pertanian, biogas), Annuha publishing,
dan air minum Hexagonal Zulal serta bantuan dari LAZIS Al-Haromain (Lembaga
Amil, Zakat, Infaq dan Shodaqah).
Sarana pendidikan di PP. Nurul Haromain tergolong
sederhana. Tempat belajar dan mengajar berlangsung di musholla, sakan/tempat
istirahat santri dan perpustakaan. Adapun alat-alat pendidikan yang digunakan
sudah tergolong modern seperti laptop/komputer, LCD, peralatan shoting
(kamera), internet, stasiun radio, dan TV internet/on-line.
2. Pondok Pesantren Shirothul Fuqoha’. Setelah kita mengetahui tupa pesantren
modern, maka berikut adalah contoh pesantren salafiyah, yang juga tertulis
beberapa rincian sebagai berikut:
a. Sejarah
Pondok Pesantren Salafiyah Shirothul Fuqoha’
bukanlah sebuah pondok yang dibangun dengan sengaja, melainkan sebuah tanah
waqaf yang dibangun masjid dan digunakan sebagai pusat kajian agama oleh warga
daerah Gondanglegi. Seringnya pengajian diadakan membuat warga berani
mengundang ustad bahkan Kyai dari luar kota, salah satunya KH. Damiri dari
Jombang dan akhirnya beliaulah yang membangun dan mengembangkan pesantren ini.
Tepat pada tahun 1977, KH. Damiri memberi nama
Pesantren dengan Pondok Pesantren
Salafiyah Shirothul Fuqoha’ dengan adanya santri sekitar 30-an putra dan putri.
Ditahun 1981 ditambahlah bangunan yang ada untuk memfasilitasi santri pada saat
itu. Namun, pada tahun 1984 tepatnya pada tanggal 8
Januari 1984 sang pendiri pondok romo K.H. Damiri telah wafat dengan
meninggalkan santri sebanyak 340 orang, dan perjuangan beliau dalam menyi’arkan
agama dilanjutkan oleh putra angkat beliau yang juga alim dan istiqomah yaitu
K.H.Muhammad Dahlan Ghoni.
Sejak saat itulah pesantren yang berlokasi di
jl. Raya Sepanjang Gondanglegi ini diasuh oleh K.H.Muhammad Dahlan Ghoni hingga
saat ini pesantren semakin besar dan berkembang dengan melakukan ekspansi
tanah, bukan hanya beliau beberapa sekolah yang dibangun telah diamanahkan
kepada menantu dan anak-anak beliau.
b. Kurikulum
Melanjutkan batu patokan Romo Kyai Damiri,
Kyai Dahlan mempertahankan sistem salaf untuk pesantren ini dengan beberapa
kriteria:
1) Visi dan Misi
Sesuai dengan namanya, pesantren ini bertujuan menjadikan
santri ahli fiqih yang secara spesifik melakukan kajian ilmu-ilmu syari’at
dalam upaya tafaqquh fiddin dan memahami permasalahan yang ada dimasyarakat.
Sehingga memiliki kemampuan untuk menjawab dan memenuhi tuntutan dan kebutuhan
masyarakat. Maunah, 2009:33
2) Relasi Sosial
Latar belakang pesantren yang hadir karena warga
masyarakat menjadikan pesantren ini tetap menjaga hubungan baik dengan
masyarakat sekitar pesantren, dengan mengadakan pengajian rutin tiap jumat
pagi, dan konsumsi pun disiapkan bersama-sama oleh santri dan beberapa warga
sekitar. Menjadikan alumni pesantren ini mengerti akan sikap dan tanggungjawab
dalam berinteraksi dengan masyarakat luas.
3) Tenaga Pendidik dan Civitas Pesantren
Seperti umumnya pesantren dalam PP. Shirothul Fuqoha’
selain Kyai dan putra-putranya, juga menuntut santri-santri senior untuk
mengajarkan ilmmunya kepada santri-santri junior atau disebut ustad dan
ustadah. Dalam adminnistrasi juga diberikan amanah kepada para santri senior
yang dinaungi oleh gus dan ning (menantu dan putra pengasuh).
4) Metode dan Model Pengajaran
Pesantren salaf selalu memiliki ciri khas dalam
pengajarannya yakni menekankan dengan mengkaji kitab kuning. Dari awal
pendirian pesantren ini metode waton (pengajian umum) sudah diberlakukan bahkan
untuk masyarakat luar, juga menggunakan metode tradisional lain berupa sorogan
(membaca suatu materi dan disimak oleh guru secara perseorangan), dan
mudzakaroh (diskusi masalah-masalah diniyah), yang ditekankan lagi ada halaqoh
qur’an setiap usai sholat shubuh dan maghrib.
Madrasah diniyahnya dengan metode klasikal dan materi
lebih beracuan pada kitab, dibedakan tingkatannya antara madrasah diniyah di
santri putra dengan madrasah santri putri. Untuk santri putra ada 3 tingkatan yaitu
tingkat ibtida’ selama 2 tahun, tingkat tsanawiyah selama 2 tahun, dan tingkat
aliyah selama 2 tahun. Sedangkan madrasah diniyah untuk santri putri hanya 2
tingkatan yaitu tingkat ibtida’ atau ula selama 3 tahun dan tingkat wustho 3
tahun. Perbedaan itu karena sudut pandang pengasuh mengharuskan anak laki-laki
harus mempunyai derajat keilmuan yang lebih tinggi dari anak perempuan.
5) Evaluasi pembelajaran
Dalam tiap tingkatan / kelas, akan ada sebuah ujian / imtihan
tiap triwulan -3 bulan sekali- untuk masing-masing mata pelajaran dengan ujian
tulis dan ujian hafalan / muhafadhoh. jika akan kenaikan kelas, di hari
terakhir ujian harus mengumpulkan buku catatan –tiap mata pelajaran pada
tingkat tertentu- yang sudah lengkap dan itu berpengaruh pada nilai rapor.
6) Sarana dan Prasarana
Adanya masjid besar yang menjadi titik tumpu berdirinya
pesantren ini, hingga saat ini sudah mengalami beberapa pemugaran masjid,
begitu pula dengan pesantren ditambah musholla untuk santri putri. Meningkatnya
santri yang terus bertambah, menjadikan pesantren ini punya banyak komplek
kamar baik putra maupun putri, ada pula aula / gedung serbaguna yang menjadi
pusat kegiatan pesantren, kamar mandi dan dapur santri, kantor pesantren putra
dan putrikamar mandi dan dapur santri, kantor pesantren putra dan putri,
koperasi pondok, ruang komputer, perpustakaan. Dan sekarang sudah dibuka
sekolah formal MA Shirothul Fuqoha’ dengan 3 kelas.
Bukan sebuah maksud menunjukkan baik buruk antara kedua pesantren diatas,
melainkan perlu mengetahui apa saja perbedaan yang signifikan dari kedua contoh
paparan diatas, dan perbedaan itu dibahas dalam pemaparan selanjutnya.
B.
Perbandingan Pesantren Salaf dan Modern
Setelah melihat dua contoh data pesantren modern dan
salaf maka perlu adanya perbandingan untuk melihat secara rinci bentuk dan
model kedua jenis pesantren itu, yang dalam hal ini akan disajikan melalui
tabel sebagai berikut:
|
KARAKTERISTIK
|
PESANTREN MODERN
|
PESANTREN SALAF
|
|
TUJUAN
|
- pesantren modern memiliki tujuan yang lebih
fokus dan terarah
-
lebih membawa masa depan alumninya jelas
|
-
pesantren salaf mempunyai tujuan yang
berbatas
-
menjadikan alumninya lebih mampu bersikap
dan berinteraksi dengan berbagai kalangan masyarakat
|
|
MATERI
|
-
tidak hanya beracuan pada kitab klasik
-
menghadirkan ilmu pengetahuan umum
-
lebih piawai dalam mengintegrasikan dengan
perkembangan zaman
|
-
beracuan dengan kitab klasik (kitab kuning)
-
mengutamakan ilmu alat dan ilmu fiqih
-
lebih membahas permasalahan agama yang
terjadi di kalangan masyarakat kontemporer (diskusi)
|
|
METODE
|
-
lebih kreatif dalam membungkus metode
tradisional
-
mampu menghadirkan media pembelajaran baru
|
-
mempertahankan metode tradisional
-
tidak menghiraukan media yang lebih
menunjang pembelajaran
|
|
EVALUASI
|
-
placement tes
-
tes tulis dan praktek di akhir masa
pelajaran
-
ada uji lapangan untuk melihat kemampuan di
dunia luar
|
-
tes tulis di akhir masa pelajaran
-
hafalan
-
ujian sebatas teori
|
|
SARANA/PRASARANA
|
-
fasilitas lebih mengikuti kemajuan teknologi
|
-
fasilitas memadai yang terhindar dari
pengaruh negatif perkembangan teknologi
|
Dari tabel diatas dapat terlihat jelas bagaimana sistem dan kurikulum yang
ada di pesantren modern dan kurikulum yang ada di pesantren salaf, semua itu
bertujuan agar kita bisa menemukan kurikulum yang terbaik diantara dua contoh
diatas.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kurikulum pendidikan di pesantren saat ini tak sekedar fokus pada kita kitab klasik, tetapi juga memasukkan semakin banyak mata pelajaran dan keterampilan umum di Pesantren saat ini dikotomi ilmu mulai tak populer. Beberapa pesantren bahkan mendirikan lembaga pendidikan umum yg berada dibawah DIKNAS Misal Undar Jombang, Pondok pesantren Iftitahul Muallimin Ciwaringin Jawa barat dll. Dilihat dari segi ilmu yang diajarkan, pesantren terbagi menjadi tiga macam, yaitu: pesantren tradisional, pesantren modern, dan pesantren komprehensif. Masingmasing memiliki kurikulum pembelajaran yang berbeda-beda.
B. Saran
Tidak dapat menentukan kurikulum mana yang lebih baik, melainkan tiap pesantren mempunyai ciri khas masing-masing dan tak ada kerugian ketika menuntut ilmu didalamnya. Akan lebih baik jika ada pesantren yang menyatukan dua sistem yang berbeda itu, hingga tercipta sebuah pesantren yang dapat menerima setiap keadaan dengan tetap mempertahankan budaya wali songo tapi tidak tertinggal oleh zaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar