REVIEW BUKU
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Judul Buku : FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM SYI’AH (Perspektif Mu
rtadha Muthahhari)
Penulis Buku : MUHAJIR
Tahun Buku : 2013
Cetakan/ Hal : Cet.I / 129 Halaman
Penerbit Buku : PUSTAKA PELAJAR – YOGYAKARTA
Munculnya teologi islam menjadikan banyak pilihan dalam menjalankan agama islam, dan adanya pemikiran-pemikiran para ulama’ yang merupakan factor pendukung teologi itu sendiri, bahkan semenjak zaman Rasululloh SAW. Teologi islam tidak menjadi perbedaan yang berselisih selama masing-masing penganutnya menjujung tinggi rasa toleransi. Mungkin sebaliknya bnyak terjadi perdebatan jika tiap penganutnya punya rasa paling benar dan mengganggap penganut lain salah, karena sesungguhnya masing-masing madzhab itu saling berhubungan dan saling mempengaruhi.
Dalam membahas teologi islam, termasuk didalamnya adalah akidah, tauhid, fiqh, syari’ah, dan berbagai dimensi aturan agama islam, yang pasti punya landasan dan ideologi tertentu sesuai imam atau pemimpin yang diikuti. Salah satu dimensinya adalah pendidikan, sudah seharusnya sebagai umat islam mengenal macam teologi sehingga tiap muslim tahu aliran mana yang menjadi keyakinannya, dengan cara apa? Dengan didikan sejak dini -keluarga- yang diajarkan leluhurnya. Oleh karena itu bukan menjadi persoalan yang baru bahwa teologi islam pun sudah menjadi suatu disiplin ilmu dan dapat dengan mudah diperoleh di bangku sekolah, dari teologi islam juga dapat ditemukan berbagai bentuk pemdidikan yang digagas oleh pemikir-pemikir sufi yang berbeda madzhab. Sesuai dengan apa yang telah reviewer baca, buku Filsafat Pendidikan Islam Syi’ah dari sudut pandang Murtadha Muthahhari –salah satu filsuf dari Syi’ah- telah memberikan gambaran system pendidikan yang baik dan komprehensif, mulai dari dasar ideology dan epistemologinya hingga kurikulum dan metode pembelajarannya. Secara ringkas dan jelas akan reviewer bahas.
BIOGRAFI MURTADHA MUTHAHHARI
Salah satu filsuf dari Syi’ah adalah Murtadha Muthahhari bin Muhammad Husain Muthahhari (selanjutnya disebut Murtadha) yang lahir pada 2 Februari 1920, bertempat di desa Fariaman –sebuah desa di Timur laut, Iran- yang termasuk kota pelajar dan dekat pusat ziarah orang Syi’I. latar belakang keluarga murtadha sangat religus dan tradisional, ayahnya yang seorang ulama’ tersohor menjadikan Murtadha sangat memahami ilmu agama, sekaligus sebagai guru spiritualitas murtadha yang pertama dan paling mempengaruhinya adalah ayahnya itu sendiri. Selama hidupnya, ayah Murtadha menanamkan teologi Syi’ah, khususnya Syi’ah Imamiyah yang menjadikannya fanatic terhadap golongan tersebut.
Pendidikan formalnya pertamakali didapatkan pada tahun 1932 di Masyhad, meskipun daerah itu mengalami masa keterpurukan namun tak mematahkan semangat belajar Murtadha, bahkan ia menjadi murid yang punya kecerdasan Luar biasa. Setelah itu ia pun melanjutkan pendidikannya di Qum, dan darisitu Murtadha mempelajari ilmu Agama –lebih mendalam- oleh Ayatulloh Hujjat Kuhkamari dan ilmu Alquran – Tafsir oleh Boroujerdi. Tiada yang melihat kekurangan dari Murtadha ketika disanjung guru-gurunya melainkan kecerdasan dan sifat kritisnya hingga membuat guru-gurunya selalu memunculkan pemikiran yang baru. Tidak hanya ilmu agama Murtadha juga mendalami filsafat-filsafat barat dari Sigmund Frued, Karl Marx, Betrand Russel, Albert Einstein dan filsuf-filsuf barat lainnya, dengan tujuan untuk memenuhhi hasrat semangat belajarnya itu. Ketika di Qum ini pula Murtadha mulai menuangkan karya-karyanya. Setelah usai masa pendidikannya, murtadha pun mendomisilikan diri di Teheran sekaligus mengabdikan keilmuannya di Madrasah Marvi, hingga akhir kehidupannya.
PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MURTADHA
Menurut Prof. H. Mahmud Yunus pendidikan ialah suatu usaha yang dengan sengaja dipilih untuk mempengaruhi dan membantu anak yang bertujuan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, jasmani dan akhlak sehingga secara perlahan bisa mengantarkan anak kepada tujuan dan cita-citanya yang paling tinggi. Agar memperoleh kehidupan yang bahagia dan apa yang dilakukanya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa, negara dan agamanya. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pendidikan yaitu sebuah proses pembelajaran bagi setiap individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek tertentu dan spesifik. Pengetahuan yang diperoleh secara formal tersebut berakibat pada setiap individu yaitu memiliki pola pikir, perilaku dan akhlak yang sesuai dengan pendidikan yang diperolehnya. Jika diringkas, Pendidikan adalah tujuan, proses mendapat tujuan, hasil dari tujuan, juga munculnya suatu tujuan baru.
Murtadha Muthahari mengemukakan, salah satu tujuan pendidikan dan pengajaran adalah membangun kepribadian manusia dengan cara pengembangan p[otensi akal dan berpikir. Dari ungkapan tersebut tidak terlihat bahwa konsep pendidikan Murtadha ini normatif –diambil dari Alquran dan Hadits (tekstual)- melainkan harus terjadi praktik dan kreatifitas yang didapatkan peserta didik setelah mendapatkan ilmunya, karena menurut Murtadha jika sebatas membaca dan menghafal –mengaca dari system pendidikan di Iran pada masa itu-suatu ilmu saja, maka tidak akan ada feedback yang diperoleh dari mempelajari suatu ilmu. Terlihat gambaran yang bagus dalam pemikiran Murtadha ini, namun kurang adanya penjelasan mengenai karakteristik pendidikan islam itu yang seperti apa, karena jika pendidikan disamaratakan tanpa adanya tingkat usia, itu akan berpengaruh pada sisi psikologis peserta didiknya, maka para pendidik perlu ditunjang dengan pemikiran filsuf lain, agar lebih sempurna pengajarannya.
DASAR PENDIDIKAN ISLAM
Melihat adanya konsep pendidikan yang telah dijelaskan Murtadha, maka ada dua dasar yang harus ada dalam melaksanakan pendidikan,. Pertama, Ideologi pendidikan Islam, menurut Murtadha ada relasi antara ilmu dan agama yang secara rasionalitas agama yaitu konsepsi-konsepsi islam telah melahirkan keimanan dan sekaligus rasional, ilmiah, dan melahirkan optimisme. Secara hakikat ilmu pegetahuan telah member manusia cahaya dan kekuatan, sedangkan agama member cinta, harapan, dan kehangatan. Oleh karena itu agama dan ilmu pengetahuan menjadi satu kesatuan yang komplementer. Kedua, Epistemologi pendidikan Islam, Murtadha memaparkan 3 klasifikasi sumber ilmu yaitu, alam dimana manusia mampu mengetahui segala sesuatu yang ada dialam sekitar selama manusia mampu memikirkan apa dan bagaimana kejadian yang telah dilihat, sejarah dari sejarah mudah untuk manusia mengetahui asal muasal tiap kejadian atau keadaan sebelum saat ini, dan dapat diambil pelajaran dari tiap partikelnya, yang terakhir yakni jiwa manusia yang paling utama adalah jiwa manusia, ilmu dapat diperoleh dari jiwa manusia itu sendiri dengan kempuan berpikirnya menjadikan manusia itu sebagai makhluk yang paling sempurna, namun tak sedikit manusia yang mampu memfungsikan otak dan pikirannya dengan baik. Ketiga, kurikulum dan metode pendidika, Murtadha sangat memprioritaskan untuk mengembangkan potensi berpikir kreatif dalam setiap proses pembelajaran dan pengajarannya dengan maksud setiap pendidikan harus menitikberatkan pada pengembangan berpikir dan semangat berkreasi peserta didiknya. Karena menurutnya substansi pendidikan ialah behavior change bukan sekedar formalitas membaca dan menghafal pelajaran saja. Mengkritisi hal itu akan sulit menerapkan system yang sesuai pemikiran Murtadha, karena tidak semua Pendidik mempunyai skill dan mau berusaha mengjarkan siswanya senantiasa berpikir inovatif. Dalam hal itu perlu pendidik selalu memancing peserta didiknya agar menjadi problem solver untuk setiap persoalan yang dihadapi, mungkin dengan pembiasaan itu dapat diperoleh siswa yang selalu berpikir kritis sekaligus mengembangkan kreatifitasnya. Selain dapat kita ambil cara atau metode pengajaran dari Murtadha Muthahhari ini masih perlu kiranya pembaca atau pengkaji menambah literature lain untuk menjadikan suatu pendidikan dapat dikatakan sempurna. Karena pemikiran Murtadha dalam buku ini ,asih sangat global.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar